Terik sinar matahari Surabaya siang itu tidak sedikitpun mengurangi keinginan saya untuk tetap menerobos sepanjang Jalan Teknik Kimia Kampus ITS yang gersang dan berdebu. Meskipun hari itu saya sedang puasa, karena memang di dalam bulan suci Ramadhan tapi tidak masalah lah, hehe. Di masa-masa perkuliahan, sepanjang jalan itulah yang harus saya tempuh untuk mencapai kampus TC, Teknik Informatika ITS. Sedikit aneh memang cara menyingkatnya tapi ya sudahlah dari dulu gitu kok, hehe.
Tak seperti di hari lain, siang itu saya lebih memilih untuk mempercepat balik ke tempat kos daripada istirahat di lab menunggu sinar matahari lebih bersahabat karena rencananya hari itu mau pulang kampung. Ya, kalo di hari kuliah sih, memang lebih enak ngadem di lab sambil browsing kenceng ala mahasiswa TC, karena ya capek juga kalo harus bolak balik kampus-tempat kos, maklum pejalan kaki, hehehe.
Perjalanan 10 sampai 15 menit yang panas dan berdebu pun berakhir setelah sampai di belokan Poltek ITS, yaa, dari situ keadaan trotoar sudah teduh, jadi lumayan lah sambil ngadem. Tak berapa lama sampailah di tempat kos yang notabene letaknya didepan poltek. Sungguh surga dunia rasanya setelah berpanas panas di jalan lalu bisa masuk kamar kos, menyalakan kipas dan berbaring di kasur kamar kos, hehe. Tapi ya tidak bisa berlangsung lama, toh niatnya balik mau siap-siap buat pulkam kok. Dan tidak perlu waktu lama semuanya sudah siap.
Sampai di stasiun kok sepi, sungguh tidak biasa. Eh ternyata ketidakbiasaan itu karena sesuatu. Kereta yang mau membawa saya pulang ke kampung halam telat sampai setelah Maghrib. Ya, sudahlah mau gimana lagi namanya kereta ekonomi. Masa bayar 2000 rupian mau yang macem macem, hehehe. Bisa masuk kereta aja syukur alhamdulillah itu. Yaa, ada baiknya juga telat, jadi bisa shalat Maghrib di stasiun.
Alhamdulillah, keterlambatan yang diumumkan kepala stasiun tidak molor, tak lama setelah shalat maghrib kereta yang ditunggu pun datang. Sungguh di luar dugaan, tidak seperti hari biasa, penumpang yang bersiap naik tidak seramai biasanya, tidak sampai seperempatnya mungkin. Ya lumayan lah, jadi tidak perlu berebut kursi hampir pasti dapat tempat duduk, hehehe.
Benar saja, tempat yang harusnya ditempati 4 orang saya tempati sendiri, di gerbong yang saya tempati cuma ada tidak lebih dari 25 orang dari kapasitas 106 orang, beruntung sekali :D
Penumpang yang lain pun tampak sedikit heran dengan keadaan itu, orang yang sering naik pasti tau gimana ramenya kerata itu biasanya. Ya, kalo sepi sih enak buat ngapain aja, saya lihat ada yg makan, ada yang dengerin musik keras keras, ada yang sekedar ngobrol bahkan ada sekelompok bapak bapak yang main kartu domino di dalam kereta. Ya, mungkin itu lah cara bapak-bapak itu melepas kepenatan setelah seharian bekerja mencari nafkah. Saya bisa melihat kesenangan dan tawa lepas bapak-bapak itu. Sesekali saya ikut tersenyum melihatnya. Sedangkan saya lebih memilih mendengarkan musik saja, soalnya tidak ada bahan bacaan atau teman ngobrol.
Di sepanjang perjalanan, hanya kegelapan yang bisa saya lihat diluar jendela kereta. Mulai bosan, hanya diam, tidak ada yang dilakukan. Sampai akhirnya ada seorang petugas yang mendatangi, saya kira mau perika tiket, eh kok duduk di tempat duduk kosong dihadapan saya. Hmm, lumayan ada teman, tapi sama saja, selain agak ngrasa gimana gitu sama petugas kereta, saya juga kurang bisa memulai pembicaraan jadi ya diam saja lah, hehehe, maaf pak, saya kurang friendly. :P
Mungkin karena bapaknya bosan atau emang sekedar cari teman bicara saja, bapaknya(B) mulai ngajak ngomong saya(S), hehehe.
B : "Kerja dimana Mas?".
(Lagi, selalu saja sama pertanyaan pertama orang yang ngajak ngobrol di kereta, saya selalu dikira kerja, apa saya setua itu ya - -"? )
S : "Oo, ndak kerja kok Pak, masih kuliah". (maksa senyum)
B : "Masih kuliah to Mas, saya kira kerja. Kuliah dimana Mas?".
S : "Iya. Di ITS Pak".
B : "Oo, ambil jurusan apa Mas?".
S : "Teknik Informatika Pak, sudah mau semester 5".
B : "Sudah setengah perjalanan ya, asli mana Mas?".
S : "Iya Pak, ndak kerasa sudah 2 tahun, saya asli Jombang Pak".
B : "Tiap hari PP"?
S : "Ndak Pak, kalo lagi ndak ada acara saja saya pulangnya, seminggu dua minggu sekali gitu Pak".
B : "Oo gitu ya, iya kalo PP bisa capek dijalan Mas. Ya, ditekuni saja, sayang kalo sudah dapat kesempatan kuliah disia-siakan. Saya saja pengen kuliah kok"
S : "Iya Pak, sayang kalo ndak serius, masuknya sudah susah, hehe. Lho Bapak belum kuliah memangnya?"
B : "Belum Mas, saya cuma lulusan SMA, mau kuliah sekarang ya gimana, saya sudah 38 tahun, banyak yang dipikirkan, nanti malah tidak fokus kuliahnya".
(Baru tau saya kalo jadi pegawai KAI tidak harus sarjana, ya mungkin dulu aturannya seperti itu)
"Dulu saya sempat mau kuliah, tapi ya gitu Mas, belum ada kesempatan dulum jadi coba masuk KAI saja, alhamdulillah kok diterima dan bisa lanjut sampe sekarang ini Mas".
S : "Iya Pak, kalo sudah umur segitu malah repot nanti, kuliah sekarang ada saja yang diurusi."
B : "Iya Mas, itu juga pertimbangan saya. Mas, saya ngecek tiket penumpang dulu"
S : "Iya Pak, monggo"
Hmm, jadi seperti ya, ternyata dulu mau jadi pegawai KAI saja tidak perlu harus sarjana, lha sekarang mau nyari kerja kalo ndak sarjana ya susah. Semakin sulit saja mencari kerja kalo dipikir-pikir. Ya semakin sulit itu harus dibarengi usaha lebih keras memang. Jadi minder kalo lihat diri sendiri, selama ini belum maksimal usaha saya. Ya, dari sekarang harus lebih ditingkatkan usahanya. Terima kasih Bapak petugas kereta yang saya belum tau namanya atas nasehat dan pengalaman yang dibagi. Sangat banyak hikmah yang saya dapat dari obrolan santai sore itu yang tidak semua bisa saya tulis disini. Semoga diberi kelancaran dalam bertugas, Pak. Amin.
Tuesday, August 23, 2011
Friday, August 19, 2011
Sehat Itu Mahal Harganya - Coretanku Part 3
Semilir angin malam dari jendela kaca persegi kamar saya sudah berubah menjadi hembusan segar udara pagi yang bercampur embun. Langitpun sudah memerah di ufuk timur. Kokokan ayam yang bersahutan pagi itu tidak cukup untuk mebangunkan saya dari tidur pulas atau mungkin tidur yang terlalu pulas untuk orang seusia saya. Maklum lah malam hari itu aku tidur cukup larut, setelah sahur. Kesalahan, di malam yang esok hari harusnya berangkat pagi sekali ke perantauan malah terlalu asik dengan baris-baris code di layar laptop saya. Memang asik kalo sudah menemukan solusi untuk permasalahan pemrograman yang sedang dihadapi. Tidak sekali dua kali ibu saya sudah mengingatkan untuk tidur tapi ya namanya sedang asik sama sesuatu ya sekedar bilang 'iya' tapi tetap melanjutkan ngoding, hehehe, istilah itu baru saya kenal 2 tahun yang lalu tapi sekarang sudah hafal dan akrab sekali dengan istilah itu.
Baris demi baris terus terketik rapi dengan bantuan IDE canggih yang fitur autocomplete-nya yang mantap. Tak terasa, alarm sahur berbunyi baru sadar sudah selarut itu. Tidak berlama lama lagi dengan kesibukan itu saya segera menutup semua aplikasi di laptop saya termasuk lantunan ayat suci Al Qur'an dari Winamp yang menemani sepanjang malam, lalu saya matikan laptop, beres beres, siapkan perbekalan buat berangkat ke perantauan. Semua selesai, setelah sahur terpaksa tidur sebentar, lumayan lah daripada tidak sama sekali, mengingat beberapa jam setelahnya harus menempuh perjalanan sekitar 71 km dari rumah ke tempat perantauan. Ya kalo berencana tidur di perjalanan ya belum tentu bisa, karena tidak jarang dalam perjalanan yang lebih dari 70 km itu harus ditempuh dengan berdiri berdesakan dengan penumpang lain di kereta. Maklum lah, kereta ekonomi, hehe.
Ketika tersadar dari tidur, ternyata sudah hampir jam 5 pagi, segera saja saya bersih diri dan ambil air wudhu dan shalat Subuh. Sesaat kemudian berangkat ke stasiun. Benar saja, ketika sampai di stasiun suasana sudah ramai, dan sudah dipastikan sedang menunggu kereta yang sama karena di jam itu cuma ada 1 kereta, kereta yang sama yang akan mengantarkan saya ke perantauan kereta ekonomi jurusan Kertosono-Surabaya.
Tak lama waktu berselang kereta sampai di stasiun Jombang dan alhamdulillah kali ini saya tidak perlu berdiri dalam perjalanan karena masih ada tempat duduk tersisa untuk saya. Stasiun demi stasiun terlewati, kereta semkin penuh sesak, hingga sampai di suatu stasiun, Mojokerto kalo tidak salah ada seorang ibu paruh baya yang tidak lagi mendapatkan tempat duduk. Disini sisi kemanusaiaan diuji, yasudahlah saya saja yang mengalah, sepertinya saya lebih kuat berdiri dari ibu itu. Saya memepersilahkan ibu itu duduk dan saya menjalain sisa perjalanan dengan berdiri, toh biasanya juga berdiri, hehehe.
Dari situ, sang ibu(I) dan saya(S) mulai bercakap-cakap:
I : "Lho, sampean ngalah nak?, matur nuwun 'nak,(sambil tersenyum lebar)".
S : "Iya ibu, monggo, sudah biasa berdiri".
I : "Turun mana 'nak?"
S : "Stastiun Gubeng Bu, ibu turun mana?"
I : "Oo sama nak, ibu juga turun di Gubeng. Kerja 'nak?"
S : "Ndak Bu, kuliah".
I : "Oo kuliah, saya kira kerja, kuliah dimana 'nak? Di Unair? kok ndak naik sepeda motor saja?"
S(dalam hati) : "Apa saya sudah keliatan tua ya?"
S : "Ndak Bu, saya di ITS kok, ndak Bu, saya ndak ada kendaraan(senyum terpaksa, miris)"
I : "Ooo gitu ya 'nak, ambil jurusan apa disana? sudah semester berapa?"
S : "Iya Bu, ambil jurusan Teknik Informatika Bu, ini mau masuk semseter 5"
I : "Oo, ambil teknik ya, memang bagus tekniknya ITS, kalo anak saya dlu juga teknik, Elektro, di Unesa"
S : "Ooo gitu ya Bu, angkatan berapa Bu anak ibu yang di Unesa itu?"
I : "Sudah lulus kok 'nak sudah ngajar di SMP Khadijah"
S : "Ooo, alhamdulillah ya Bu"
I : "Iya 'nak, itu juga dia nyari nyari sendiri biayanya, entah dari beasiswa entah ngelesi, ya alhamdulillah sekarang sudah ngajar, kan banyak toh nak sarjana yang nganggur".
Mendengar jawaban itu saya hanya terdiam, bagaimana bisa keadaan itu mirip sekali dengan keadan saya. Itu membuat lidah ini kelu. Menyadarkan saya akan sesuatu. Sesaat kemudian saya menemukan kalimat yang tepat untuk menanggapi jawaban itu.
S : "Iya Bu, lulusan sama peluang kerjanya tidak sebanding, jadi harus pandai pandai mencari pengalaman dan peluang. Oiya, ibu ke Gubeng mau kemana?"
I : "Iya nak, maka dari itu alhamdulillah anak saya sudah dapat kerja. Itu, ibu mau jenguk adik sepupu di RS Karang Menjangan, mau dibawa ke Singapura dalam waktu dekat"
S : "Lho? sakit apa Bu? kok sampe harus ke luar negeri?"
I : "Itu nak, jantungnya bermasalah, kemarin setelah dioperasi jantungnya ndak bisa produksi sel darah, jadi seminggu dua kali harus ke RS ngisi darah baru"
S : "Sudah lama Bu?"
I : "Sudah 8 bulan nak, padahal setiap minggu harus 2 kali ke RS, padahal biayanya sekali masuk bisa jutaan. Ya itulah nak, kalo sudah sakit uang itu tidak ada gunanya"
Lagi, jawaban ibu ini membuat saya terdiam sejenak, menyadari betapa beruntungnya saya yang masih diberi organ yang normal.
S : "Iya Bu, sekarang medis mahal memang, kalo sudah 8 bulan bisa pastinya bukan orang sembarangan itu ya Bu? zaman sekarang kalo bukan rang kaya ya susah berobat seperti itu"
I : "Iya nak. sekarang mahal. Yaa dia dokter kok nak, jadi ya kaya memang 2 dari 3 anaknya juga dokter gigi, yang 1 masih sekolah SD kelas 6"
S : "Ooo gitu ya Bu, pantas saja bisa berobat seperti itu."
I : "Iya nak, makanya kita ini harusnya bersyukur maih sehat wal afiat seperti ini, bersyukur jadi orang tidak punya, kalo adik sepupu saya itu tidak banyak uang seperti itu belum tentu penyakitnya parah, paling batuk pilek saja"
S : "iya Bu, kalo orang biasa seperti saya ginin paling sakitnya ringan ringan. Semua memang ada hikmahnya ya Bu"
I : "Iya nak, meskipun kita orang biasa, bukan orang kaya harus tetap bersyukur nak. Sudah hampir sampai nak, ibu kedepan dulu ya"
S : "Iya Bu, monggo, hati hati Ibu"
I : "Iya nak, matur nuwun".
Tidak menyangka, pagi itu bisa merasakan obrolan bermakna dengan orang yang bahkan saya tidak tau namanya. Ya, banyak hal yang bisa diambil hikmahnya, betapa mahalnya sehat, betapa kurang bersyukurnya diri ini. Banyak orang yang lebih tidak beruntung daripada saya.
Syukur alhamdulillah, mendapat hikmah yang dangat bernilai di pertemuan singkat yang tidak disengaja itu. Semoga kita semua menjadi manusia yang lebih bersyukur.
Baris demi baris terus terketik rapi dengan bantuan IDE canggih yang fitur autocomplete-nya yang mantap. Tak terasa, alarm sahur berbunyi baru sadar sudah selarut itu. Tidak berlama lama lagi dengan kesibukan itu saya segera menutup semua aplikasi di laptop saya termasuk lantunan ayat suci Al Qur'an dari Winamp yang menemani sepanjang malam, lalu saya matikan laptop, beres beres, siapkan perbekalan buat berangkat ke perantauan. Semua selesai, setelah sahur terpaksa tidur sebentar, lumayan lah daripada tidak sama sekali, mengingat beberapa jam setelahnya harus menempuh perjalanan sekitar 71 km dari rumah ke tempat perantauan. Ya kalo berencana tidur di perjalanan ya belum tentu bisa, karena tidak jarang dalam perjalanan yang lebih dari 70 km itu harus ditempuh dengan berdiri berdesakan dengan penumpang lain di kereta. Maklum lah, kereta ekonomi, hehe.
Ketika tersadar dari tidur, ternyata sudah hampir jam 5 pagi, segera saja saya bersih diri dan ambil air wudhu dan shalat Subuh. Sesaat kemudian berangkat ke stasiun. Benar saja, ketika sampai di stasiun suasana sudah ramai, dan sudah dipastikan sedang menunggu kereta yang sama karena di jam itu cuma ada 1 kereta, kereta yang sama yang akan mengantarkan saya ke perantauan kereta ekonomi jurusan Kertosono-Surabaya.
Tak lama waktu berselang kereta sampai di stasiun Jombang dan alhamdulillah kali ini saya tidak perlu berdiri dalam perjalanan karena masih ada tempat duduk tersisa untuk saya. Stasiun demi stasiun terlewati, kereta semkin penuh sesak, hingga sampai di suatu stasiun, Mojokerto kalo tidak salah ada seorang ibu paruh baya yang tidak lagi mendapatkan tempat duduk. Disini sisi kemanusaiaan diuji, yasudahlah saya saja yang mengalah, sepertinya saya lebih kuat berdiri dari ibu itu. Saya memepersilahkan ibu itu duduk dan saya menjalain sisa perjalanan dengan berdiri, toh biasanya juga berdiri, hehehe.
Dari situ, sang ibu(I) dan saya(S) mulai bercakap-cakap:
I : "Lho, sampean ngalah nak?, matur nuwun 'nak,(sambil tersenyum lebar)".
S : "Iya ibu, monggo, sudah biasa berdiri".
I : "Turun mana 'nak?"
S : "Stastiun Gubeng Bu, ibu turun mana?"
I : "Oo sama nak, ibu juga turun di Gubeng. Kerja 'nak?"
S : "Ndak Bu, kuliah".
I : "Oo kuliah, saya kira kerja, kuliah dimana 'nak? Di Unair? kok ndak naik sepeda motor saja?"
S(dalam hati) : "Apa saya sudah keliatan tua ya?"
S : "Ndak Bu, saya di ITS kok, ndak Bu, saya ndak ada kendaraan(senyum terpaksa, miris)"
I : "Ooo gitu ya 'nak, ambil jurusan apa disana? sudah semester berapa?"
S : "Iya Bu, ambil jurusan Teknik Informatika Bu, ini mau masuk semseter 5"
I : "Oo, ambil teknik ya, memang bagus tekniknya ITS, kalo anak saya dlu juga teknik, Elektro, di Unesa"
S : "Ooo gitu ya Bu, angkatan berapa Bu anak ibu yang di Unesa itu?"
I : "Sudah lulus kok 'nak sudah ngajar di SMP Khadijah"
S : "Ooo, alhamdulillah ya Bu"
I : "Iya 'nak, itu juga dia nyari nyari sendiri biayanya, entah dari beasiswa entah ngelesi, ya alhamdulillah sekarang sudah ngajar, kan banyak toh nak sarjana yang nganggur".
Mendengar jawaban itu saya hanya terdiam, bagaimana bisa keadaan itu mirip sekali dengan keadan saya. Itu membuat lidah ini kelu. Menyadarkan saya akan sesuatu. Sesaat kemudian saya menemukan kalimat yang tepat untuk menanggapi jawaban itu.
S : "Iya Bu, lulusan sama peluang kerjanya tidak sebanding, jadi harus pandai pandai mencari pengalaman dan peluang. Oiya, ibu ke Gubeng mau kemana?"
I : "Iya nak, maka dari itu alhamdulillah anak saya sudah dapat kerja. Itu, ibu mau jenguk adik sepupu di RS Karang Menjangan, mau dibawa ke Singapura dalam waktu dekat"
S : "Lho? sakit apa Bu? kok sampe harus ke luar negeri?"
I : "Itu nak, jantungnya bermasalah, kemarin setelah dioperasi jantungnya ndak bisa produksi sel darah, jadi seminggu dua kali harus ke RS ngisi darah baru"
S : "Sudah lama Bu?"
I : "Sudah 8 bulan nak, padahal setiap minggu harus 2 kali ke RS, padahal biayanya sekali masuk bisa jutaan. Ya itulah nak, kalo sudah sakit uang itu tidak ada gunanya"
Lagi, jawaban ibu ini membuat saya terdiam sejenak, menyadari betapa beruntungnya saya yang masih diberi organ yang normal.
S : "Iya Bu, sekarang medis mahal memang, kalo sudah 8 bulan bisa pastinya bukan orang sembarangan itu ya Bu? zaman sekarang kalo bukan rang kaya ya susah berobat seperti itu"
I : "Iya nak. sekarang mahal. Yaa dia dokter kok nak, jadi ya kaya memang 2 dari 3 anaknya juga dokter gigi, yang 1 masih sekolah SD kelas 6"
S : "Ooo gitu ya Bu, pantas saja bisa berobat seperti itu."
I : "Iya nak, makanya kita ini harusnya bersyukur maih sehat wal afiat seperti ini, bersyukur jadi orang tidak punya, kalo adik sepupu saya itu tidak banyak uang seperti itu belum tentu penyakitnya parah, paling batuk pilek saja"
S : "iya Bu, kalo orang biasa seperti saya ginin paling sakitnya ringan ringan. Semua memang ada hikmahnya ya Bu"
I : "Iya nak, meskipun kita orang biasa, bukan orang kaya harus tetap bersyukur nak. Sudah hampir sampai nak, ibu kedepan dulu ya"
S : "Iya Bu, monggo, hati hati Ibu"
I : "Iya nak, matur nuwun".
Tidak menyangka, pagi itu bisa merasakan obrolan bermakna dengan orang yang bahkan saya tidak tau namanya. Ya, banyak hal yang bisa diambil hikmahnya, betapa mahalnya sehat, betapa kurang bersyukurnya diri ini. Banyak orang yang lebih tidak beruntung daripada saya.
Syukur alhamdulillah, mendapat hikmah yang dangat bernilai di pertemuan singkat yang tidak disengaja itu. Semoga kita semua menjadi manusia yang lebih bersyukur.
Thursday, August 11, 2011
Membuat Partisi Dengan Disk Management
Menghabiskan liburan di bulan Ramdhan tanpa ada yang dikerjakan(belum ada niat mengerjakan) terkadang membuat bosan. Ya, itulah yang saya rasakan siang ini. Mau browsing lama-lama bosan juga, mau mulai garap e-Office juga masih malas, hehe. Bingung, ya sudahlah coba install game saja lah, laptip masih bersih dari game setelah install ulang. Kok kayaknya lumayan buat refreshing sebentar.
Instalasi selesai, eh mau dimainkan kok ternyata nggak compatible sama sistem operasi yang ada sekarang. Sial sekali, sudah nginstall lama, nyari cracknya juga, eh, nggak bisa dimainkan.
Akhirnya, ada niat ngistall 1 sistem operasi lagi yang bisa buat main game yang tadi, hehehe. Ya sudahlahlah dicoba saja nginstall sistem operasi ketiga di laptop kok kayaknya harddisknya masih mendukung kalo nambah 1 sistem operasi lagi.
Seperti instalasi sistem operasi lainnya, sistem operasi yang mau diinstall ini minta 1 partisi yang standalone di harddisk, ya mau tidak mau buat partisi baru saja daripada mebahayakan partisi lain yang sudah ada.
Karena sistem operasi saya ini(Windows 7 Ultimate) sudah ada fitur buat bikin partisi baru ya dimanfaatkan saja, sekalian sharing untuk yang belum tau dan pengen nyoba silahkan diikuti step step berukut ini
Instalasi selesai, eh mau dimainkan kok ternyata nggak compatible sama sistem operasi yang ada sekarang. Sial sekali, sudah nginstall lama, nyari cracknya juga, eh, nggak bisa dimainkan.
Akhirnya, ada niat ngistall 1 sistem operasi lagi yang bisa buat main game yang tadi, hehehe. Ya sudahlahlah dicoba saja nginstall sistem operasi ketiga di laptop kok kayaknya harddisknya masih mendukung kalo nambah 1 sistem operasi lagi.
Seperti instalasi sistem operasi lainnya, sistem operasi yang mau diinstall ini minta 1 partisi yang standalone di harddisk, ya mau tidak mau buat partisi baru saja daripada mebahayakan partisi lain yang sudah ada.
Karena sistem operasi saya ini(Windows 7 Ultimate) sudah ada fitur buat bikin partisi baru ya dimanfaatkan saja, sekalian sharing untuk yang belum tau dan pengen nyoba silahkan diikuti step step berukut ini
- Buka Disk Management yang disediakan untuk mengatur keadaan Harddisk Laptop atau PC
- Pilih Submenu Disk Management
Sehingga muncul tampilan jumlah, ukuran, dan keadaaan partisi yang ada di harddisk
- Pilih Partisi mana yang akan dibagi(baca:dikurangi untuk dibuat partisi baru)
- Klik kanan pada partisi yang dipilih, pilih menu Shrink Volume
- Tunggu sampai muncul dialog untuk mengisi ukuran untuk partisi baru
- Setelah proses pembuatan partisi selesai, maka akan muncul freespace pada disk management yang nantinya akan digunakan untuk partisi baru.
- Format dan beri Disk Path
Ikuti petunjuk di wizard yang muncul, klik next - next terus untuk setting default, dan finish untuk melakukan formatting.
- Format selesai, partisi baru sudah bisa digunakan.
Sekian, kalo mau nyoba silhkan, tapi saya tidak menanggung segala macam kegagalan percobaan dengan cara ini, :PSemoga bermanfaat
Friday, August 5, 2011
Ramadhan Produktif - Coretanku Part 2
Siang hari, panas, dalam keadaan puasa pula, sungguh nikmat kalo bisa tidur siang, itung-itung biar malamnya bisa bangun awal sebelum sahur, jadi bisa tahajjud atau tilawah dulu selembar dua lembar gitu. Tapi kok tidak ngantuk, ya sudah, buka laptop lagi. Kalo dipikir pikir kasihan juga nih laptop, istirahatnya kalo yang punya lagi tidur, malah sering ditinggal tidur yang punya tapi tetap nyala. Jadi ada keinginan buat sistem otomatis biar bisa matiin laptop kalo yang punya tertidur.
Haduh, siang siang malah nglantur. Yaa daripada mikir yang tidak tidak mending browsing saja, sekalian online, hehe. Tapi sama saja sih, browsing juga mau nyari apaan, lha wong liburan. Ya online facebook deh akhirnya, scroll scroll, kok ada status bagus, katanya "Ramadhan itu bulan semangat!, semangat!", yaa mungkin benar sih, kebanyakan kan klo ramadhan dibanyakin tidurnya dengan dasar "tidur adalah ibadah" ya termasuk saya sih, hehe.
Dari situ kok jadi pengen nyari ayat atau hadits yang berhubungan sama itu, hmm, ndak nemu nemu, karena keywordnya ngasal, scroll scroll eh ada link Judulnya "Tafsir Ibnu Katsir" wah ndak dapat 1 malah dapat banyak ini. Berikut ini linknya kalo mau download http://shirotholmustaqim.wordpress.com/tafsir-ibnu-katsir-juz-1-9/. Coba deh saya buka di tab baru. Eh ternyata disitu berupa ebook, dibagi per juz ada jg yang per surat, ya sudah download aja juz 1 sampe 3 dulu. Sambil nunggu download coba nyari nyari yang lain, tapi useless, isinya hampir sama semua, link yang menuju link lain, capek deh - -"
Akhirnya download yang pertama selesai, coba baca deh, kata mentor saya Al Baqarah 1 - 20 bisa mewakili keseluruhan Al Qur'an jika diamalkan. Kan yang di juz 1 cuma Al Baqarah. Hmm, lumayan juga lah bisa nambah ilmu, toh selama ini tilawah juga baru sekedar baca, belum memahami, hehe.
Hmm, sambil baca baca kok ndak kerasa uda mau masuk waktu Ashar, ya sudah, dicukupkan saja dulu, alhamdulillahi rabbil 'alamiin ada hikmah yang didapat hari ini, dari browsing ngalor ngidul bisa dapat sesuatu yang bermanfaat sekali, Subhanallah. :D
Yaa, terima kasih buat teman saya, sehingga Ramadhan saya tidak hanya untuk tidur :D
InsyaAllah disambung dengan cerita lain yang tidak kalah aneh.
Wassalam.
Haduh, siang siang malah nglantur. Yaa daripada mikir yang tidak tidak mending browsing saja, sekalian online, hehe. Tapi sama saja sih, browsing juga mau nyari apaan, lha wong liburan. Ya online facebook deh akhirnya, scroll scroll, kok ada status bagus, katanya "Ramadhan itu bulan semangat!, semangat!", yaa mungkin benar sih, kebanyakan kan klo ramadhan dibanyakin tidurnya dengan dasar "tidur adalah ibadah" ya termasuk saya sih, hehe.
Dari situ kok jadi pengen nyari ayat atau hadits yang berhubungan sama itu, hmm, ndak nemu nemu, karena keywordnya ngasal, scroll scroll eh ada link Judulnya "Tafsir Ibnu Katsir" wah ndak dapat 1 malah dapat banyak ini. Berikut ini linknya kalo mau download http://shirotholmustaqim.wordpress.com/tafsir-ibnu-katsir-juz-1-9/. Coba deh saya buka di tab baru. Eh ternyata disitu berupa ebook, dibagi per juz ada jg yang per surat, ya sudah download aja juz 1 sampe 3 dulu. Sambil nunggu download coba nyari nyari yang lain, tapi useless, isinya hampir sama semua, link yang menuju link lain, capek deh - -"
Akhirnya download yang pertama selesai, coba baca deh, kata mentor saya Al Baqarah 1 - 20 bisa mewakili keseluruhan Al Qur'an jika diamalkan. Kan yang di juz 1 cuma Al Baqarah. Hmm, lumayan juga lah bisa nambah ilmu, toh selama ini tilawah juga baru sekedar baca, belum memahami, hehe.
Hmm, sambil baca baca kok ndak kerasa uda mau masuk waktu Ashar, ya sudah, dicukupkan saja dulu, alhamdulillahi rabbil 'alamiin ada hikmah yang didapat hari ini, dari browsing ngalor ngidul bisa dapat sesuatu yang bermanfaat sekali, Subhanallah. :D
Yaa, terima kasih buat teman saya, sehingga Ramadhan saya tidak hanya untuk tidur :D
InsyaAllah disambung dengan cerita lain yang tidak kalah aneh.
Wassalam.
Memulai Itu Susah - Coretanku Part 1
Hmm, saya tidak tau harus seperti apa memulai ini, memulai menulis. Dari dulu selalu saja ini yang jadi masalah, tidak tau cara memulai sesuatu, apalagi menulis. Aneh, kalo mulai selalu saja tidak tau harus menulis apa, tapi kalo sudah nulis tidak tau juga cara mengakhirinya.
Yaa, sudahlah memang tidak ada bakat menjadi penulis, di blog sekalipun. Tapi kemarin setelah baca-baca blog teman, kok enak juga ya kalo bisa berbagi pengalaman hidup dengan orang lain(kalo ada yang baca) atau sekedar mencatat perjanan hidup agar tidak lupa dari mana diri ini berasal, syukur syukur kalo ada yang baca trus terinspirasi menulis dan tulisannya itu membawa hikmah bagi orang yang baca, mantep juga itu catatan amal baiknya, bisa berlipat-lipat, hehehe. :D
Dari situlah keinginan menuliskan kisah hidup ini pun muncul dalam benak saya, setelah sekian lama membuat blog, lalu terhapus, buat lagi terhapus lagi, buat lagi, lupa password karena jarangnya dibuka akhirnya sekarang agak rajin update konten, yaa meskipun hanya berisi sampah, hehe. It's okay, namanya juga pemula, hehehe.
All of this start right here and right now. (Halah sok English barang, hehe). Ya, Jum'at pertama di bulan Ramadhan, 5 Agustus 2011. Semoga saja bisa rutin update artikel atau sekedar nulis curhatan gak penting, hehe.
Hmm, sudah dulu, dicukupkan saja untuk curhatan kali ini. There's something to do, hehe.
Cerita bersambung di episode selanjutnya, hehe :P
Yaa, sudahlah memang tidak ada bakat menjadi penulis, di blog sekalipun. Tapi kemarin setelah baca-baca blog teman, kok enak juga ya kalo bisa berbagi pengalaman hidup dengan orang lain(kalo ada yang baca) atau sekedar mencatat perjanan hidup agar tidak lupa dari mana diri ini berasal, syukur syukur kalo ada yang baca trus terinspirasi menulis dan tulisannya itu membawa hikmah bagi orang yang baca, mantep juga itu catatan amal baiknya, bisa berlipat-lipat, hehehe. :D
Dari situlah keinginan menuliskan kisah hidup ini pun muncul dalam benak saya, setelah sekian lama membuat blog, lalu terhapus, buat lagi terhapus lagi, buat lagi, lupa password karena jarangnya dibuka akhirnya sekarang agak rajin update konten, yaa meskipun hanya berisi sampah, hehe. It's okay, namanya juga pemula, hehehe.
All of this start right here and right now. (Halah sok English barang, hehe). Ya, Jum'at pertama di bulan Ramadhan, 5 Agustus 2011. Semoga saja bisa rutin update artikel atau sekedar nulis curhatan gak penting, hehe.
Hmm, sudah dulu, dicukupkan saja untuk curhatan kali ini. There's something to do, hehe.
Cerita bersambung di episode selanjutnya, hehe :P
Wednesday, July 27, 2011
Hikmah Bersyukur di Tengah Cobaan Hidup
Wahai saudaraku ...
Mungkin saat ini kau dirundung duka
Tetapi seharusnya tidak membuat engkau berlarut lama
Wahai saudaraku ...
Ingatlah, kondisi kita tidak selamanya harus dalam suka
Kadang akan merasakan duka
Suka dan duka akan terus berganti dalam hidup kita
Wahai saudaraku ...
Takdir Allah itu begitu baik
Jika kita pandang dari satu sisi mungkin terasa tidak enak
Namun coba kita pandang dari sisi lain, Allah punya maksud lain yang terbaik
Wahai saudaraku ...
Bukankah Nabi kita Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu keletihan dan penyakit (yang terus menimpa), kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya"(HR Bukhari)
Coba kita perhatikan bagaimana janji Rabb kita
Dosa-dosamu akan berguguran satu demi satu
Jadi tidak perlu bersedih ...
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Alam Nasyroh: 5)
Di balik kesulitan ada kemudahan yang begitu banyak
Karena satu kesulitan mustahil mengalahkan dua kemudahan
Jadi tidak perlu bersedih ...
وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ
“Sesungguhnya pertolongan akan datang bersama kesabaran" (HR Ahmad)
Jalan keluar begitu dekat bagi orang yang bertakwa
Pertolongan mudah datang jika seseorang bersabar
Jadi tidak perlu bersedih ...
Jagalah hati, lisan dan anggota badan dari berkeluh kesah
Ridholah dengan takdir ilahi
Jadikan sabar sebagai jalan meraih pertolongan.
Musibah semakin mendewasakan diri
Musibah semakin meninggikan derajat di sisi Allah
Musibah semakin menguji iman seseorang
Moga Allah menjadikan badai cepat berlalu
Moga Allah menjadikan diri menjadi orang yang bersabar
Moga Allah membalas orang yang bersabar dengan JANNAH
Mungkin saat ini kau dirundung duka
Tetapi seharusnya tidak membuat engkau berlarut lama
Wahai saudaraku ...
Ingatlah, kondisi kita tidak selamanya harus dalam suka
Kadang akan merasakan duka
Suka dan duka akan terus berganti dalam hidup kita
Wahai saudaraku ...
Takdir Allah itu begitu baik
Jika kita pandang dari satu sisi mungkin terasa tidak enak
Namun coba kita pandang dari sisi lain, Allah punya maksud lain yang terbaik
Wahai saudaraku ...
Bukankah Nabi kita Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,
مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا ، إِلاَّ كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ
"Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu keletihan dan penyakit (yang terus menimpa), kehawatiran dan kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah akan menghapus kesalahan-kesalahannya"(HR Bukhari)
Coba kita perhatikan bagaimana janji Rabb kita
Dosa-dosamu akan berguguran satu demi satu
Jadi tidak perlu bersedih ...
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
"Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Alam Nasyroh: 5)
Di balik kesulitan ada kemudahan yang begitu banyak
Karena satu kesulitan mustahil mengalahkan dua kemudahan
Jadi tidak perlu bersedih ...
وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ
“Sesungguhnya pertolongan akan datang bersama kesabaran" (HR Ahmad)
Jalan keluar begitu dekat bagi orang yang bertakwa
Pertolongan mudah datang jika seseorang bersabar
Jadi tidak perlu bersedih ...
Jagalah hati, lisan dan anggota badan dari berkeluh kesah
Ridholah dengan takdir ilahi
Jadikan sabar sebagai jalan meraih pertolongan.
Musibah semakin mendewasakan diri
Musibah semakin meninggikan derajat di sisi Allah
Musibah semakin menguji iman seseorang
Moga Allah menjadikan badai cepat berlalu
Moga Allah menjadikan diri menjadi orang yang bersabar
Moga Allah membalas orang yang bersabar dengan JANNAH
Tuesday, July 26, 2011
Memory Managemant di Bahasa C
Dalam pemrograman C, alokasi memori dapat dilakukan secara statis, otomatis dan dinamis. Variabel sementara dialokasikan pada memory utama, dan lamanya sesuai dengan lama program dijalankan. Sedangkan variabel berdurasi otomatis memorinya dialokasikan pada tumpukan memory(stack) dan muncul kembali setelah dipanggil. Pada alokasi memory seperti ini ukuran alokasi memory membutuhkan waktu compiling yang tetap. Waktu pengalokasian memory juga perlu diperhatikan. Memory yang dialokasikan secara otomatis tidak bisa berlangsung melalui pemanggilan fungsi secara bersamaan sedangkan memory yang dialokasikan secara statis tidak dapat diketahui secara pasti apakah alokasi tersebut diperlukan atau tidak. Pada beberapa situasi tertentu, programmer membutuhkan waktu pengalokasikan memory yang jauh lebih fleksibel.
Keterbatasan tersebut dapat dihindari dengan pengalokasian memory secara dinamis.
- Fungsi malloc
Dalam hal ini memory dialokasikan lebih eksplisit namun lebih fleksibel. Dalam bahasa pemrograman C, fungsi ini terdapat pada malloc. Malloc digunakan untuk mengatur alokasi memory pada heap. Pengaksesan blok memory dilakukan melalui sebuah pointer yang dikembalikan oleh malloc. Ketika alokasi memory tersebut tidak lagi dibutuhkan oleh program, pointer membebaskan memory tersebut untuk dialokasikan kembali untuk variabel lain yang dibutuhkan program.
Dalam bahasa C, fungsi standart malloc digunakan untuk pengalokasian memory. Pendeklarasian fungsi malloc adalah:
Void *malloc (size_t size);
yang mengalokasikan memory sebanyak size bit. Jika pengalokasian berhasil, pointer dari blok memory yang digunakan akan dikembalikan, jika tidak, null pointer akan dikembalikan ke fungsi.
Alokasi memory dengan menggunkan malloc akan berlanjut apabila momory yang dialokasikan dibebaskan oleh programmaer secara eksplisit (tidak bisa berlangsung secara otomatis). Pembebasan memory yang tidak dipakai lagi adalah dengan fungsi free. Pendeklarasian fungsi tersebut adalah :
void free(void *pointer);
yang membebaskan memory yang telah dialokasikan melalui pointer. Pointer harus sudah dikembalikan (return) oleh fungsi malloc, calloc, dan realloc. Pointer hanya dapat dibebaskan satu kali.
Contoh penggunaan malloc dalam bahasa C pada array 1 dimensi.
int * y = (int *) malloc(sizeof(int));
- Fungsi calloc
Malloc mengembalikan blok memory yang dialokasikan progarammer untuk diguanakan tetapi belum diinisialiasasi. Umumnya memory akan menginisialisasi sendiri jika dibutuhkan. Atau dengan menggunakan fungsi memset atau dengan satu atau lebih rangkaian statement melalui pointer. Salah satu alternatif yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan fungsi calloc, yang mengalokasi kemudian menginisialisainya, pendeklarasiannya yaitu : void *calloc(baris a, kolom b);
yang mengalokasikan sebagian memory kemudian menginisialisasinya dengan nilai 0, dan ukurannya a x b.
- Fungsi realloc
Dalam membuat suatu program, akan sangat berguna jika bisa memperbesar atau memperkecil alokasi memory. Ini semua dapat dilakukan dengan menggunakan fungsi realloc yang mengembalikan pointer pada bagian memory dengan ukuran tertentu yang memuat data yang sama dengan bagian awal yang ditunjuk pointer. Jika realloc dapat mengalokasi memory kembali dengan ukuran berbeda, realloc akan mengalokasikan tempat kosong untuk file, mengcopy data yang dibutuhkan, dan membebaskan pointer sebelumnya. Jika alokasi kembali gagal, realloc mengatur kembali pointer aslinya dan mengembalikan nilai null. Memory yang telah dialokasikan kembali belum diinisialisasi (isinya tidak tentu). Fungsi realloc dideklarasikan dengan :
void *realloc(void *pointer, ukuran);
Realloc berfungsi sebagai malloc jika argumen pertama bernilai null.
void *x = realloc (NULL, 20);
sama dengan
void *x = malloc(20);
Pada 89C standar, realloc dengan panjang null sama dengan memory bebas/ free(). Pada 99C standar ini tidak lagi menjadi masalah. Dalam standar 99C, alokasi memory realloc dengan panjang null dikurangi hingga nol dan pointer bukan null dikembalikan ke fungsi. Dalam penggunaan realloc selalu ada 1 variabel yang menjadi variabel sementara.
· Kegunaan Malloc dan Akibatnya Bila Tidak Digunakan Malloc
1. Kegunaan malloc yaitu mengalokasikan memory pada heap hanya pada saat diperlukan saja, setelah tidak diperlukan lagi, memory dapat dibebaskan lagi.
2. Akibat bila tidak digunakan malloc yaitu tidak dapat terjadi alokasi memory secara dinamis sehingga dapat terjadi pengalokasian memory yang tidak perlu. Selain itu memory juga tidak bisa dibebaskan sebelum program berakhir.
· Contoh Array 2 Dimensi dengan Menggunakan Fungsi Malloc
// Contoh aplikasi malloc pada array 2 Dimensi
#include <stdio.h>
#include <conio.h>
#include <stdlib.h>
void arr(int**,int,int);
void deallocate(int**);
main()
{
char j = 'y';
int **baris;
int r, c;
printf("Masukkan angka sebagai jumlah baris dan kolom \n");
while (j == 'y' || j == 'Y')
{
printf("row = ");scanf("%d",&r);
printf("column = ");scanf("%d",&c);
printf("\n\n");
arr(baris,r,c);
deallocate(baris);
printf("ulang?>y/n ");scanf(" %c",&j);
}
}
void arr(int** p, int a, int b)
{
p = ( int** )malloc( (a)*sizeof( int* ) );
int x,y;
for(x = 0; x < a; x++)
{
p[x] = ( int* )malloc( (b)*sizeof( int ) );
}
for(x = 0; x < a; x++)
for (y = 0; y < b; y++)
{
printf("p[%d][%d] = ",x,y);scanf("%d",&p[x][y]);
}
printf("\n\n");
for(x = 0; x < a; x++)
for (y = 0; y < b; y++)
{
printf("%d ",p[x][y]); // menampilkan bentuk array 2 Dimensi
if (y == b-1)
printf("\n");
}
}
void deallocate(int** p)
{
free(p); // membebaskan alokasi memory
}


